Papa mama tercinta,
Aku tahu kita tidak pernah dekat. Aku selalu merasakan ada jarak yang lebar dan dinding yang tebal yang memisahkan kita. Bukan berarti aku tidak mencintai kalian. Bukan, bukanlah begitu.
Sebenarnya jarak yang memisahkan kita ini dikarenakan dengan keadaan aku. Aku tau bahwa sejak aku berumur 12 tahun bahwa aku tidak akan bisa membahagiakan kalian. Bukan berarti aku tidak akan bisa menjadi orang sukses.. bukan begitu.
Sekarang hidupku ini sudah cukup memadai. Mempunyai pekerjaan yang tetap, dan mampu memenuhi kebutuhan hidupku sendiri. Bahkan Papa dan Mama bangga terhadap keadaan hidupku sekarang.
Terkecuali satu hal kecil.. well.. tergantung bagaimana di mata kalian. Mungkin bagi kalian, apalagi di adat istiadat kita, ini merupakan hal yang tabu dan tidak mungkin bisa diterima. Apalagi dengan peradatan kita yang selalu mengutamakan bahwa jati diri kita di mata orang lain ini sangat penting.
Aku tidak mungkin dapatlah memenuhi harapan Papa dan Mama untuk menikah dengan seorang cowok, dan mempunyai anak. Papa Mama tercinta, aku adalah seorang wanita yang mencintai wanita. Inilah jati diriku sesungguhnya yang selalu aku sembunyikan dari kalian. Dan inilah kenapa aku selalu menjaga jarak yang lebar terhadap kalian.
Mengapa hal ini bisa menjadi jurang yang dalam yang memisahkan kita? Kenapa Papa Mama tidak pernah memikirkan bahwa hal ini bisa terjadi ke setiap orang, walaupun orang itu adalah anak Papa Mama sendiri? Kenapa Papa Mama bisa menerima kenyataan bahwa ada teman Papa Mama yang sama seperti aku, tetapi tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku adalah pecinta sejenis? Apakah itu gara2 keluarga kita ingin sekali menjaga muka? Apakah hal ini sebegitu negatif nya?
Papa, Mama, cinta adalah cinta adalah cinta. Dan itu tidak bisa dirubah bagaimanapun juga. Banyak hal ingin kuceritakan ke kalian. Tetapi aku tidak dapat. Karena cerita2 itu terkait dengan kenyataan bahwa aku seorang Lesbian.
Tahukah Papa Mama bahwa waktu aku berumur 12 tahun, aku jatuh cinta kepada seorang perempuan di sekolahku, dan bahwa aku sempat berada dalam depresi dan ingin sekali berteriak untuk menyatakan cinta kepada dia. Tetapi aku tidak bisa, dan aku tidak mau menerima jati diriku sendiri bahwa aku mencintai sesama perempuan? Saat itu, tahukah kalian bahwa aku merasa sendirian di dunia yang hiruk pikuk ini?
Tahukah kalian betapa leganya diriku begitu aku di kuliah, menemukan sekelompok orang2 dengan latar belakang / adat istiadat yang sama dengan aku, dan mereka semua adalah laki2 dan perempuan yang juga Lesbian / Gay / Bisexual / Transexual?
Tahukah kalian betapa bahagianya diriku sewaktu aku bersama pacar pertamaku? Dan betapa sakitnya hatiku ketika dia memutuskan hubungan kita?
Serta betapa bahagianya aku sekarang menemukan seseorang wanita yang sungguh2 menyayangi ku sebagai kekasih?
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
1 comments:
hikz hikz... terharu
Post a Comment