Hostelnya itu deket banget sama U-Bahn stasion. Kita beli Tageskarte (day card) seharga €6.10. Lumayan lah, dengan kartu itu, kita bisa naik public transportation selama 1 hari penuh.
Aku pikir gedung ini ada di daerah Alexanderplatz. Terus kita ngambil kereta ke Alexanderplatz. Sesampai di sana, kita ngeliat peta lagi, baru kita sadar bahwa gedung itu tempatnya rada jauh dari Alexanderplatz. Setelah sadar, kita balik ke stasiun kereta, dan ambil kereta ke tempat yang bener, di Unten de Linden. Yang ternyata kita ambil keretanya kajauhan.
Setiba di Unten de Linden, kita ngelewatin Brandenburger Tor.
Ngeliat buildingnya Reichstag kok sepi ya. Abis foto2, ternyata yang bener tempat masuk gedungnya itu di balik tempat kita foto2. Dan ternyata udah banyak orang yang mengantri di depan gedung itu. Begitu masuk, kita harus lewati security, yang gak kalah ketatnya ama sekuriti nya di lapangan terbang.
Abis scan tas bawaanku, satpamnya nyegat gua, nanya, apa gua ada pisau lipat di tasku. Eh, aku lupa kalo di tasku itu ada gunting lipat leatherman. Yah, typical engineer, bawa gunting lipat leatherman. Aku mesti check out gunting itu ke satpamnya. Waktu keluar, bisa diambil lagi.
Terus kita naik lift ke lantai atap. Oh ya, gedung Reichstag itu tempat di mana parlemen pada bertemu.
Di atap ada satu kubah kaca yang kita bisa naik dan ngeliat pemandangan Berlin, Untungnya hari itu lumayan cerah. Walaupun rada dingin.
Puas dengan pemandangan Berlin dari atas gedung Reichstag, kita turun. Saking laparnya, begitu turun, aku ngomong ke Thom kalo abis gini kita cari makan breakfast. Akhirnya, kita ke satu cafe di Unter den Linden area dan beli cake. Setelah ngeliat menunya, gara2 kelaparan, aku pesen juga breakfast.
Ternyata aku kalo makan kadang2 gak kira2. Bisa makannya banyak banget. Habis sarapan dan kenyang banget, aku ama Thom memutuskan untuk ngikutin walking travel tournya dari buku travel. Si Thom bawa buku travel Michelin yang punya Prancis, dan aku bawa buku Lonely Planet yang dari Amrik. Kita akhirnya ngikutin rekomendasi dari travel book.
Sewaktu di Gendarmenmarkt, kita liat ada pasar orang2 jual banyak makanan2. Salah satu nya ada stand yang tulisannya “Ich bin ein Berliner”. Dan di gambar itu ada gambarnya Berliner. Nah, kutipan itu, menurut Thom, diambil dari speech nya Kenedy waktu dia ke Berlin. Yah, gua juga not really interested in Politics anyway. Silahkan cari inti pidato dari Wikipedia dah. Aku lebih interested ke bangunan dan pemandangan di sana.
Kita juga sempet ke Bebelplatz, di mana terjadi Book burning waktu di jaman Nazi. Di tengah2 square itu ada kaca. Di bawahnya ada kayak ruang kecil yang warnanya putih, di mana ada rak2 buku yang dicat putih juga. Tapi rak2 ini gak ada bukunya.
Juga di seberang Bebelplatz ada Humboldt Universität, di mana Einstein pernah ngajar.
Terus kita terusin ke daerah museum2. Gara2 hari itu adalah tanggal 3 Oktober di mana meperingatin Jerman bersatu. Jadi museum2 dibuka gratis. Di sebelah para museum, ada satu monumen peringatan Neue Wache (New Guardhouse) yang isinya kosong, kecuali patung seorang ibu yang memangku anaknya yang meninggal. Ini untuk memperingati dan di dedikasi buat orang2 yang dalam oppression, atau dibunuh gara2 ras, agama, sexual orientation.
Trus kita ke daerah Rathaus, terus di daerah sana ada Nikolaikirche. Kita kemudian terusin ke Dom nya di Berlin.
1 comment:
duh pagi2 saya dah ketawa ketiwi sendirian nih.... emang ga ada tulisan "entrance, this way" yah? ... ditunggu cerita laennya
Post a Comment